Jumat, 22 Desember 2017

Sebagai negara yang tergolong memiliki daerah yang luas, Indonesia memiliki beberapa negara tetangga, di antaranya Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Selain itu, Indonesia berbatasan pula dengan Australia, Papua Nugini, dan Timor Leste—sebuah negara yang dulunya pernah menjadi bagian dari Indonesia. Dari beberapa nama negara tetangga tersebut, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam begitu menarik untuk diamati. Hal ini dikarenakan selain negara tersebut bertetangga, ketiganya memiliki kekerabatan yang sangat dekat dengan Indonesia, baik secara budaya maupun bahasa. Meskipun memiliki kosakata yang khas, namun secara garis besar bahasa masing-masing negara tersebut masih dapat dimengerti oleh negara yang lain.

sumber: www.kryptomoney.com/securities-commission-of-malaysia-might-soon-bring-upon-a-regulated-crypto-framework/
Akan tetapi berbeda halnya dengan masalah ekonomi, sampai saat ini Indonesia masih belum seberuntung ketiga negara tersebut. Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam kini menjadi negara yang sudah maju dengan pesat. Padahal kalau kita tilik dari sisi sejarah, Indonesia adalah negara yang paling pertama merdeka, disusul kemudian Malaysia, Singapura, dan terakhir Brunei Darussalam. Tentunya dalam asumsi sederhana, negara yang terlebih dahulu merdeka tentu memilliki kesempatan untuk lebih dahulu menjadi negara maju. Kenyataannya kemajuan sebuah negara bukanlah merupakan deretan bilangan yang mampu diprediksi dengan hitung-hitungan logika matematis yang sederhana, tetapi ada banyak variabel lainnya yang saling melengkapi dan berhubungan yang kesemuanya itu memberikan andil demi kemajuan negara tersebut. Asumsi-asumsi ini, menyeret saya untuk mengamati apa yang harus kita pelajari, terutama Malaysia, sebuah negara yang dahulunya banyak belajar dari Indonesia dengan mendatangkan begitu banyak guru ke negaranya. Tentu pengamatan saya bukanlah dengan membandingkan angka-angka statistik atau hitung-hitungan ekonomi dari kedua negara tersebut tapi lebih kepada mengamati kebiasaan orang-orang di sana berdasarkan pengalaman yang pernah saya rasakan.
Kuala Lumpur menjadi tempat pertama sekali saya menginjakkan kaki, sebuah daerah yang terhitung kecil untuk ukuran sebuah ibukota negara. Bandingkan saja, Jakarta memiliki luas daerah sebesar 661,52 km2, sementara Kuala Lumpur hanya memiliki luas sebesar  243,65 km2. Bahkan sedikit lebih kecil dibandingkan Kota Medan yang luasnya mencapai 265,10 km2. Tetapi sesampai di sana, kita akan disuguhkan dengan infrasruktur transportasi dan jalan raya yang menurut pribadi saya amat berbeda keadaannya dengan negara kita. Badan jalan yang luas menjadi pemandangan yang biasa. Dan tidak berlebihan rasanya jika kita katakan sulit untuk menemukan jalanan yang berlubang di sana.
Kemacetan juga jarang sekali terjadi, padahal hampir semua keluarga di kota itu memiliki mobil pribadi. Bahkan apabila dihitung secara statistik, masing-masing keluarga memiliki mobil minimal sebanyak 2 unit. Sangat berbeda keadaannya bila dibandingkan dengan kota-kota sibuk yang ada di Indonesia. Kemacetan menjadi hal yang sangat “lumrah” didapati. Saya pun menjadi penasaran dengan keadaan ini. Lebih dalam saya mengamati “mengapa hal kemacetan jarang terjadi di sini?”
Setelah saya amati, selain faktor sarana transportasi umum yang sudah sangat memadai, etika berkendara di jalan raya menjadi salah satu yang sangat menentukan. Sebagai contoh, saat lampu merah menyala, semua kendaraan patuh untuk berhenti, bahkan ketika tengah malam sekalipun. Di sana tidak ada yang senekad pengendara  di Indonesia yang berani menerobos saat lampu merah.  Saat antri di lampu merah, setiap mobil menjaga jarak satu sama lainnya, sekitaran setengah hingga satu meter. “Sedikit” jauh berbeda dengan suasana lalu lintas di beberapa kota yang pengendaranya tega mengambil trotoar dan area pertokoan sebagai shortcutnya.
Penasaran yang saya rasakan membimbing saya mengamati alasan utama mengapa mereka lebih taat dengan peraturan berlalu lintas. Akhirnya pertanyaan itu terjawab setelah berulang-ulang kali saya melihat papan peringatan terhadap pelanggaran aturan lalu lintas berikut dengan dendanya hamper di semua badan jalan. Dan tidak tanggung-tanggung, berhenti di sembarang tempat dibanderol dengan denda RM300-600. Untuk pelanggaran yang besar, bisa dihargai sampai RM3000. Sepadan untuk memberikan efek jera.
Saya juga berkesempatan merasakan sensasi razia lalu lintas itu secara langsung di sana. Bermula dari “ngidam”nya seorang teman yang ingin berfoto di bawah  gemerlap cahaya Twin Tower di malam hari, padahal jam sudah menunjukkan angka 12. Kami menyetop sebuah taksi dan bergegas ke sana untuk memburu waktu, karena berbeda dengan kota-kota besar di Indonesia, Kuala Lumpur sepertinya tidak menganut sistem kota 24 jam. Walaupun sebuah ibukota negara, tampilan kota yang padat di siang hari berubah menjadi sangat sunyi, padahal jam masih bertengger di angka 9 malam. Setelah puas berfoto sampai lampu menara dipadamkan, kami pun segera pulang. Kembali kami menyetop taksi dan tawar menawar pun terjadi. Supir taksi yang berkebangsaan India ini menolak saat kami menawar harganya. Dia beralasan kalau membawa kami berlima itu beresiko. Di sini, penumpang maksimum yang diizinkan dibatasi 4 orang saja. Dia menjelaskan kalau tertangkap saat razia, lisensinya sebagai supir taksi terancam dicabut. Akhirnya, kami menyetujui harganya dan taksi pun melaju.
Tak beberapa jauh, hanya sekitar 2 kilometer dari tempat kami naik, polisi pun menghadang di depan. Dengan sangat terpaksa, 2 orang teman saya harus rela turun dan berjalan sekitar setengah kilo meter melewati razia polisi. Bukan mulus begitu saja, polisi tadi tetap saja menghadang dan menyuruh sang supir berikut dengan kami semua untuk keluar. Polisi menjelaskan bahwa membawa 5 orang penumpang adalah pelanggaran, supir pun dengan cara memelas memohon untuk dilepaskan dengan alasan bahwa kami pelancong yang tidak mau berpisah dari kawan-kawannya karena malam hari. Mendengar kami sebagai pelancong, polisi meminta kami menunjukkan paspor. Celakanya, paspor saya tertinggal di hotel karena memang mulanya saya tidak berniat kemana-mana. Bersyukur, dua teman saya membawa paspor dan mengaku bahwa saya adalah saudara laki-laki mereka  yang mereka ajak untuk menemani keluar sebentar. Di dukung dengan tampilan saya yang hanya bercelana pendek, dia pun memaklumi. Setelah dicecari beberapa pertanyaan, termasuk pertanyaan tentang tujuan kami ke negara itu, akhirnya kami dilepaskan. Si supir pun bisa terbebas dari hukuman.
Pengalaman yang saya rasakan ini menunjukkan betapa keinginan mereka menegakkan peraturan dengan sebaik-baiknya, walaupun mungkin tetap ada saja beberapa oknum yang memanfaatkan penegakan hukum sebagai alat memperkaya diri. Terlepas dari itu, saya patut memberikan apresiasi yang tinggi dan kita perlu mencontohnya. Walaupun dulu Indonesia pernah menjadi guru bagi negara ini, setidaknya saatnya kini kita harus berani mengakui kalau kita perlu belajar kembali kepada “muridnya” dulu. Tak perlu malu untuk mengambil sisi-sisi positif untuk membangun bangsa yang besar ini demi negara yang maju dan sejahtera di masa mendatang.
Kembali dunia pendidikan Indonesia harus menelan pil pahit. Kali ini, kasus datang dari seorang guru SMP di Sidoarjo yang harus diadili di persidangan akibat menghukum seorang siswanya dengan cubitan di lengan kanan siswa tersebut. Kejadian ini pun menyita perhatian guru-guru di Indonesia dan mengundang aksi simpatik dari para guru, salah satunya adalah aksi simpatik para guru di Kota Delta terhadap rekannya, SB (45), guru SMP Raden Rahmat yang menjadi tersangka yang sedang menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo.
sumber: www.sciencedaily.com/releases/2016/10/161005090700.html
Kasus ini bukan lah hal yang baru di kalangan guru. Sebelumnya, kasus orang tua siswa kelas 4 SD Antonius Matraman Jakarta Timur berinisial KN yang melaporkan gurunya Inho Loe karena diduga mencubit KN pada saat mengajar. Laporan masuk ke PPA Polres Jakarta Timur pada Jumat (10/6). Di tambah pula beredarnya sebuah kabar bahwa seorang guru SD di Majalengka, Jawa Barat nyaris mendekam dalam tahanan akibat dari kegiatannya mendisiplinkan para siswa yang berambut gondrong. Di Banyuwangi, terjadi pula kejadian serupa. Seorang guru SD harus menghadapi pengadilan karena menindak siswanya yang "menhajar" 4 orang teman sekelasnya. Orang tua siswa yang mendengar kejadian itu tak terima anaknya diperlakukan dengan cara yang demikian. Kasus ini menyebabkan sang guru harus berurusan dengan hukum.
Kasus “serang balas” terhadap guru terjadi bukan hanya akibat memberikan hukuman fisik saja. Seorang guru honorer di Kalimantan Barat bernama JM (39) mendapat perbuatan tidak menyenangkan dari orang tua murid di sekolah tempat ia mengajar dengan mencukur rambut JM karena merasa tidak terima jika rambut anaknya dipotong oleh sang guru. Kasus yang hampir sama juga menimpa AS beberapa tahun lalu, yang mencukur siswa SD kelas III karena rambutnya gondrong. Orang tua siswa, IH, tidak terima dan mencukur balik sang guru. Kasus ini lalu berlanjut ke pengadilan.
Rentetan kasus ini menbuat para guru was-was jika ingin menghukum siswanya yang telah melakukan pelanggaran. Di satu sisi, guru diberikan tugas untuk mendidik dan mengajar para siswa serta menegakkan aturan dan disiplin di sekolah, namun di sisi lain guru dibayang-bayangi rasa kekhawatiran dengan hukum pidana yang sewaktu-waktu akan bisa saja menjeratnya ketika sedang memberikan teguran atau hukuman atas pelanggaran yang dilakukan oleh siswanya.
Perlu diakui bahwa miris rasanya menjadi seorang guru yang dituntut harus bekerja secara profesional, namun dirinya tidak dilindungi oleh instrumen hukum yang menjamin aman dirinya dalam menjalankan tugas keprofesionalannya itu. Amat berbeda dengan profesi-profesi lainnya yang memiliki sidang kode etik khusus terkait dugaan pelanggaran yang dilakukan, sebelum perkara tersebut dilimpahkan ke ranah hukum. Jadi, apa yang harus dilakukan para pendidik sehingga mereka tetap merasa aman dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik? Apakah seorang guru harus bersikap tak acuh dengan pelanggaran yang dilakukan oleh siswa dengan membiarkan perilakunya tersebut terjadi akibat dari guru merasa takut terlibat dengan kasus pidana? Tentunya kita semua berharap hal itu tidak terjadi, karena bagaimana pun guru merupakan orang yang sangat berjasa dalam kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun kehidupan berbangsa bernegara. Lantas, apa yang salah dengan hukuman (punishment) yang dilakukan seorang guru terhadap muridnya yang “bersalah”? Tulisan ini mencoba untuk mengajak siapa saja, terutama pendidik dan orang tua, untuk memahami hakikat sebuah punishment dalam bingkai pendidikan melalui sudut pandang psikologi pendidikan
“Penghargaan” (reward) dan “hukuman” (punishment) merupakan istilah yang digunakan dalam teori-teori behaviorisme. Telah diyakini sejak lama, bahwa umumnya manusia cenderung memilih sesuatu yang memiliki konsekuensi yang menyenangkan dan menghindari hal-hal yang dapat memberikan konsekuensi hukuman. Keyakinan ini lah yang menjadi salah satu pilar teori behaviorisme. Dari semua pendukung teori behaviorisme, teori Skinner dianggap memiliki pengaruh yang paling besar terhadap perkembangan teori belajar. B.F. Skinner dikenal sebagai tokoh behavioris berkebangsaan Amerika meyakini bahwa perilaku individu dapat dikontrol melalui proses operant conditioning dimana seorang dapat mengontrol tingkah laku individu tersebut melalui sebuah reinforcement (penguatan).
Dua orang ahli psikologi yang dianggap mempengaruhi pandangan Skinner adalah Edward L. Thorndike dan John B. Watson. Edward L. Thorndike adalah seorang ahli psikologi pertama yang mempelajari akibat dari tingkah laku secara sistematis. Dalam penelitiannya Thorndike mengobservasi bahwa dalam pembelajaran akan lebih banyak didapatkan karena efek dari mengikuti suatu respon. Hasil pengamatan ini disebut sebagai Law of Effect. Skinner mengakui bahwa Law of Effect berperan penting dalam kontrol tingkah laku. Skinner juga sepakat bahwa dalam pembentukan perilaku manusia, efek terhadap penghadiahan lebih dapat diprediksi dibanding efek terhadap pemberian hukuman. Singkatnya, pemberian reward justru lebih efektif memberikan efek dibandingkan pemberian punishment kepada siswa.
Tokoh selanjutnya adalah John B. Watson. Ia meyakini bahwa kesadaran dan introspeksi tidak memainkan peran dalam pembelajaran ilmiah terhadap perilaku manusia.  Dalam Psychology as the Behaviorist Views, Watson berpendapat bahwa perilaku manusia sama dengan hewan dan mesin, yang dapat dipelajar. Seperti yang dinyatakan oleh Thorndike dan Watson, Skinner menggarisbawahi bahwa perilaku manusia harus dipelajari secara ilmiah. Scientific Behaviorism yang dianut Skinner berpegang teguh bahwa perilaku akan jauh lebih baik dipelajari tanpa referensi mengenai keinginan, naluri, dan motivasi.
Skinner membedakan dua jenis perilaku, yaitu: respondent behavior (perilaku responden) yang ditimbulkan oleh stimulus yang dikenali; dan operant behavior (perilaku operan), yang tidak diakibatkan oleh stimulus yang tidak dikenal tetapi dilakukan sendiri oleh individu. Respon yang tidak terkondisikan atau unconditioned response adalah contoh dari perilaku responden karena respon ini ditimbulkan oleh stimuli yang tak terkondisikan. Contohnya adalah gerak-gerak refleks, seperti menarik tangan saat tertusuk duri, menutup mata saat tersorot oleh cahaya yang silau, dan keluarnya air liur secara otomatis saat melihat makanan yang kita sukai. Karena perilaku operan pada awalnya tidak berkorelasi dengan stimuli yang dikenali, maka perilaku ini tampak spontan. Contohnya adalah tindakan ketika hendak bersiul, berdiri lalu berjalan, atau anak yang meninggalkan satu mainan dan beralih pada mainan lainya.
Teori Behaviorisme dalam Perspektif B. F. Skinner

Berdasarkan dua jenis perilaku tersebut, maka terdapat dua jenis pengkondisian. Pengkondisian Tipe S atau respondent conditioning (pengkondisian responden), dan Pengkondisian R atau operant conditioning (pengkondisian operan). Pengkondisian tipe ini disebut juha Pengkondisian Tipe S sebab tipe ini berfokus pada pentingnya stimulus dalam upaya menimbulkan respon yang diinginkan. Sedangkan Pengkondisian Tipe R adalah tipe pengkondisian yang menyangkut perilaku operan karena penekanannya adalah pada respon. Belajar menurut operant conditioning adalah proses di mana suatu respon dibentuk karena diperkuat oleh perubahan tingkah laku setelah respon terjadi. Contoh sederhananya ialah apabila seorang siswa sedang giat-giat belajar kemudian guru memberikan senyuman seraya pujian, maka perilaku guru akan menimbulkan kekuatan pada diri siswa untuk belajar lebih giat lagi.
Pemilik teori ini menyatakan bahwa unsur terpenting dalam proses pembelajaran adalah penguatan (reinforcement), artinya suatu perilaku individu akan semakin menguat bila diberi suatu reinforcement. Skinner membagi reinforcement ini menjadi dua jenis, yaitu positive reinforcement (penguatan positif) dan negative reinforcement (penguatan negatif). Positive reinforcement sebagai stimulus, dapat meningkatkan terjadinya repetisi atau pengulangan suatu perilaku, sedangkan negative reinforcement adalah hal-hal yang berimplikasi pada pelemahan atau penghilangan suatu perilaku. Bentuk-bentuk positive reinforcement ini dapat berupa pemberian hadiah, pemberian perilaku menyenangkan, atau pemberian penghargaan. Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: penundaan pemberian penghargaan, pemberian tugas-tugas tambahan atau pemberian perilaku yang tidak menyenangkan.
Namun oleh seorang pendidik, penerapan teori Skinner dianggap sebagai sebuah dalil pembenaran dalam menggunakan hukuman sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa. Padahal menurut Skinner, hukuman yang dianggap baik adalah ketika hukuman tersebut dapat membuat siswa mampu merasakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya itu.. Kekeliruan pendidik juga terjadi dalam memahami definisi hukuman. Pemberian hukuman dalam pandangan teori ini dapat diberikan dalam dua macam bentuk yaitu, yang pertama adalah mengadakan perlakuan yang tidak menyenangkan. Bentuk hukuman yang seperti ini adalah bentuk hukuman yang umum diberikan oleh para guru. Bentuk hukuman yang kedua adalah meniadakan perlakuan yang menyenangkan, sebagai contoh orang tua yang mencabut izin bermain game sebagai hukuman atas kesalahannya.
Penggunaan hukuman bentuk yang pertama, terutama hukuman yang bersifat verbal maupun fisik seperti: perkataan kasar, hinaan, jeweran, ataupun cubitan justru akan berdampak buruk, terutama pada kejiwaan seorang siswa. Siswa yang mengalami perlakuan tersebut akan melakukan salah satu dari hal sebagai berikut:
  1. Fly, yaitu menjauhi sosok orang yang melalukan hal itu kepadanya;
  2. Fight, yaitu melakukan perlawanan, baik secara verbal maupun fisik; dan
  3. Freeze, yaitu merasakan ketakutan psikologis dalam dirinya.
Namun apabila hukuman dianggap tetap harus diberikan, maka hukuman dalam bentuk kedua menjadi alternatif pilihan yang lebih baik. Di samping itu, kesalahan dalam reinforcement positif juga terjadi di dalam situasi pendidikan di negara ini, sebagai contoh adalah pemberian peringkat kelas yang menyebabkan siswa harus mahir dalam semua mata pelajaran. Seharusnya, setiap anak diberikan reinforcement sesuai dengan bakat dan kemampuan yang ditunjukkannya sesuai dengan prestasi siswa dalam bidang-bidangnya masing-masing.
Sebagai seorang pendidik, perlu disadari bahwa setiap aktivitas, perlakuan, dan keputusan yang diambil oleh seorang guru harus lah didasari dengan tujuan untuk mendidik. Kegiatan pendidikan yang dilakukan di dalam kelas juga harus bersifat ilmiah, artinya semua kegiatan mendidik yang dilakukan harus bersumber dari konsep dan teori yang jelas dan terukur, bukan dilandasi oleh konsep “rasa-rasanya” yang cenderung bersifat subjektif dan emosional. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru dapat dianggap profesional dan ilmiah, karena dilandasi oleh kaidah-kaidah keilmuan yang teruji dan terukur, sehingga kedepan profesi mendidik seorang guru akan lebih dihargai. Tentunya perlindungan terhadap guru harus segera diwujudkan agar tercipta lingkungan pembelajaran yang baik di masa mendatang.
Seperti hari-hari biasanya di bulan Ramadhan, saya menghabiskan waktu sore dengan cara menyusuri jalanan kota kelahiran saya, Langsa. Sedang asyik menikmati suasana sembari duduk mengendarai sepeda motor saya, saya dikejutkan dengan mobil-mobil yang terjebak dalam kesemberawutan dan saling beradu membunyikan klakson. Sejurus kemudian, sebuah mobil sedan abu-abu berukuran sedang menerobos masuk di sela-sela kemacetan itu. Nyaris saja, sedan itu menendang penjual es cendol yang sedang parkir di sisi kanan jalan. Akibat ulahnya tersebut, semua mata tertuju ke arah si pengendara mobil. Sontak masyarakat terkejut dan berang melihat bahwa yang mengendarai mobil adalah seorang anak perempuan berusia sekolah dasar, ditemani oleh sang ayah yang duduk di samping kiri. Seolah merasa benar, sang ayah malah melemparkan raut wajah yang garang sembari mengepalkan tangan, menantang orang-orang yang memandangi anaknya.
Dalam kajian psikologi, perilaku yang ditunjukkan oleh orangtua di atas disebut dengan agresivitas. Medinnus dan Johnson (1976) secara sederhana mendefinisikannya sebagai bentuk perilaku menyerang, baik itu menyerang secara fisik maupun verbal, serta melakukan pelanggaran terhadap hak milik atau menyerang daerah orang lain. Lebih lanjut dikemukakan bahwa tindakan tersebut bermaksud untuk merugikan atau menyakiti orang lain. Sementara ahli lain menyatakan bahwa agresivitas bisa saja dilakukan tanpa maksud dan tujuan tertentu. Dalam kasus contoh di atas, sang ayah mencoba untuk melakukan pelanggaran terhadap hak pengguna jalan lainnya kemudian melakukan hal yang oleh Freud diistilahkan dengan "Defense Mechanism", yaitu strategi pertahanan untuk melawan desakan dan menentang realitas eksternal yang ada, dengan cara menunjukkan kekuatannya untuk membela kesalahan yang dilakukan oleh putrinya.
Perilaku agresif dan perlawanan yang dilakukan oleh orangtua di atas-menurut pandang saya-merupan bentuk luapan kasih sayang dan perlindungan orang tua terhadap anaknya. Namun tak disadari, orang tua telah memberikan pelajaran terhadap anak dengan menunjukkan perilaku yang buruk. Kesalahan yang dilakukan oleh anak dengan mengabaikan hak-hak pengguna jalan lain malah mendapatkan penguatan (reinforcement) yang positif dari orang tua. Padahal oleh Skinner dikatakan bahwa perilaku yang mendapatkan penguatan positif justru meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku. Ditambah lagi bahwa figur yang memberikan penguatan adalah seseorang yang memiliki otoritas serta memiliki kedekatan emosional dengan sang anak. Akibat yang fatal adalah kecenderungan untuk mengabaikan hak-hak orang lain semakin meningkat sehingga anak kian jauh dari rasa bersalah ketika melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Bisa dibayangkan, apa yang akan terjadi dengan bangsa ini di masa yang akan datang bila negeri ini dipenuhi oleh generasi-generasi beragresivitas tinggi.
https://chrisantosinatra.blogspot.co.id/2017/01/kasih-sayang.html
Mendidik anak memang bukanlah perkara yang mudah. Maka, wajar apabila ada ungkapan bahwa “butuh masyarakat sekampung hanya untuk membesarkan seorang anak.” Seorang anak yang lahir dan didik dalam lingkungan keluarga yang kondusif saja bisa terkontaminasi dengan patologi sosial yang berkembang di lingkungannya, apalagi anak yang tumbuh kembang dalam lingkungan keluarga yang kacau. Para orangtua mungkin saja tidak sadar telah memberikan pendidikan dengan standar ganda kepada anak-anaknya. Dalam petuahnya, orangtua mengajarkan perilaku-perilaku yang mulia, seperti menghormati orang yang lebih tua, berkata jujur, dan sebagainya, namun dalam tingkah laku di kesehariannya justru orangtua memberikan contoh yang bertolak belakang. Tentu anak-anak akan lebih mudah menangkap nilai-nilai yang diajarkan melalui tindakan ketimbang seabreg pelajaran yang disampaikan oleh orangtua melalui nasihat-nasihatnya yang abstrak.
Juga tanpa disadari, sering sekali orangtua berdalih bahwa memberikan fasilitas hidup yang layak kepada anak adalah salah satu bentuk kasih sayang orangtua. Orangtua berharap dengan fasilitas yang ia miliki akan mampu menjamin kenyamanan hidup anak-anaknya kelak. Namun mereka sering lupa, selain membangun jaminan atas kenyamanan masa depan anak-anaknya, orangtua perlu melatih kemampuan mereka untuk bertahan hidup (survival skills), termasuk kemampuan untuk hidup bersosial dengan menghargai setiap hak serta bertanggung jawab atas apapun yang dikerjakannya, sehingga anak akan siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di masa mendatang.
Menjadi orangtua adalah “profesi” yang sulit. Namun sayangnya tidak ada satu pun perguruan tinggi yang mengajari kode etik profesi ini secara khusus. Implikasinya, masing-masing orangtua berimprovisasi dalam mendidik anak sesuai selera dan apa yang menurut dirinya baik, yang terkadang sering bersifat subjektif. Kenyataan ini justru menuntut orangtua menjadi individu pembelajar dan senantiasa mengoreksi kesalahan yang telah dilakukan selama ini. Mari belajar menjadi orangtua, yang bukan hanya memberikan contoh yang baik bagi anaknya sendiri tetapi juga mampu menjadi contoh teladan bagi anak orang lain, karena peradaban sebuah negeri berawal dari bilik-bilik kecil di dalam rumah. Tentu saja dengan menurunkan agresivitas diri dan menghargai hak-hak orang lain.
Baru saja bercakap-cakap dengan seorang teman, seputar masalah “pacaran”, sebuah istilah yang sering diperdebatkan oleh sebagian anak-anak muda tentang status boleh atau tidaknya. Untuk menjawab perdebatan ini, saya cenderung memilih untuk tidak terburu-buru dalam hal mendukung atau menentang perbuatan ini. Tulisan ini juga tidak berada dalam kapasitas untuk membahas legalitasnya, terlebih jika ingin dibenturkan dengan dalil-dalil dari sisi agama.
Jika dilihat secara sekilas, pembahasan tentang pacaran ini bukan lagi menjadi sesuatu hal yang baru. Pacaran sudah menjadi hal yang sangat klasikal umum di kalangan masyarakat Namun pada tulisan ini saya mengajak pembaca untuk melihat keunikan permasalahan ini, karena jika diamati lebih mendalam dan mendetail, fenomena dan status pacaran yang mau tak mau saat ini sudah dikonfrontasikan dengan label haram dengan seabreg teorema yang ada ini kini melahirkan bentuk hubungan yang lebih santun dan halus penyebutannya, yaitu hubungan “adik dan kakak”.
http://images.dagelan.co/old/2016/12/melamar-kekasih-1.jpg
Seperti halnya kacang goreng, istilah ini kian laris manis dipakai ketika dua orang yang memiliki kedekatan yang khusus ini dipertanyakan status hubungannya. Seakan-akan, kalimat “kami cuma sekedar adik kakak”, “dia sudah seperti kakak saya”, “dia sudah saya anggap seperti adik sendiri”, dan berjuta kalimat manis senada lainnya telah mampu dijadikan tameng tebal untuk menafikan hubungan mereka. Padahal, kalau sejenak ingin kita perhatikan lebih dalam, tak sedikit dari mereka yang melakukan adegan yang konon dilakukan oleh orang yang berstatus berpacaran, sama persis seperti sebuah barang yang hanya berganti bungkusnya saja. Teleponan, SMS-an, bersenda gurau, duduk berdua tanpa pendamping lain, antar-jemput, berboncengan, dan seabreg kegiatan lain yang mungkin tak ubahnya seperti adegan yang mereka sebut-sebut sebagai aktivitas berpacaran. Bahkan ada sebagian dari mereka yang justru telah melakukan hal-hal yang melewati batas kewajaran,
Maka sontak muncul dibenak saya, apakah aktivitas seperti ini tak bias dikatakan berpacaran juga? Mungkin saja penggagas hubungan seperti ini akan lantang menjawab, “Kami cuma sebatas adik kakak saja, kok!” Namun, apakah hanya dengan mengganti istilah, statusnya langsung berubah menjadi boleh dan terpuji? Atau sebegitu hina kah istilah “pacaran” itu, sehingga kosakata ini harus dienyahkan dalam kehidupan, namun praktiknya diterapkan bahkan dengan cara-cara yang lebih liar? Sementara jika kita merujuk ke definisinya, pacaran yang berarti proses perkenalan antara dua orang yang berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan untuk menuju pernikahan, kita tidak akan menemukan kesalahan apapun dengan definisi itu. Bila kita berpacaran dengan memegang teguh definisi tersebut, apakah ada yang salah?
Love

Memang di sisi lain, harus kita akui bahwa tak jarang orang-orang yang sedang dirundung asmara telah membawa istilah pacaran ini jauh dari definisinya semula. Mereka menyebabkan istilah ini menjadi amat dibenci dan ditakuti oleh sebagian orang. Terlebih lagi, apabila pelaku adegan berpacaran ini dilakukan oleh anak di bawah umur. Padahal frase “menuju pernikahan” dalam pengertian di atas seakan-akan secara tegas telah membatasi siapa yang boleh dan layak untuk berpacaran. Tentu amat menggelikan bila bocah-bocah ingusan juga ikut-ikutan menggunakan definisi ini untuk membela dirinya agar legal berpacaran.
Akan tetapi menggeneralisasi dan menghukumi perilaku berpacaran selalu dengan hal-hal yang negatif juga bukan hal yang tepat, bahkan keliru. Justru kita harus berupaya untuk mengedukasi kembali para remaja, tentunya remaja yang sudah siap menuju jenjang pernikahan untuk “keep on track” dengan definisinya yang semula dengan tetap menjaga nilai-nilai etika dan norma yang ada. Artinya, istilah pacaran ini memberikan kita ruang kosong yang bebas diisi dengan hal-hal yang positif dan wajar dalam membina hubungan menuju pernikahan. Bukan malah dengan melahirkan hubungan "adik-kakak rasa kekasih" atau kosakata dan istilah baru yang terdengar lebih sopan dan halus namun diisi dengan hal-hal yang busuk dan menjijikkan. Akhirnya, saya ingin menutup tulisan ini dengan mengutip salah satu peribahasa Aceh,”Bek pulot pantang, bulukat pajoh” (jangan pulot dianggap pantang, tapi bulukat dimakan).

Catatan:
Di dalam Bahasa Aceh, kata "pulot" dan "bulukat" merupakan sinonim yang berarti "ketan".
Dalam arti yang luas, evaluasi adalah proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternastif keputusan (Mehrens dan Lehmann, 1978). Hubungannya dengan kegiatan pengajaran, evaluasi berarti suati proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa (Gronlund, 1976). Dengan arti yang senada, Wrightstone, dkk., (1956) menjelaskan bahwa evaluasi pendidikan merupakan penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan di dalam kurikulum.
Fungsi evaluasi di dalam pendidikan tidak dapat dipisahkan dari tujuan evaluasi itu sendiri yaitu untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan sampai di mana tingkatan kemampuan dan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan-tujuan kurikuler. Hal itu juga berguna unuk mengukur efektivitas pengalaman mengajar, kegiatan belajar, dan metode mengajar yang digunakan. Fungsi evaluasi dalam pendidikan dan pengajaran dapat dikelompokkan menjadi empat fungsi, yaitu:
  1. Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan siswa setelah mengalami atau melakukan kegiatan belajar selama jangka waktu tertentu.
  2. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran.
  3. Untuk keperluan Bimbingan dan Konseling.
  4. Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang bersangkutan.
Mehrens dan Lehmann (1978:10) mengutip suatu ungkapan yang berbunyi: “to teach without testing is unthinkable” (mengajar tanpa melakukan tes tidak masuk akal). Pengukuran adalah langkah awal dari pengajaran. Tanpa pengkuran, tidak dapat terjadi penilaian. Tanpa penilaian, tidak akan terjadi umpan balik. Tanpa umpan balik, tidak akan diperoleh pengetahuan yang baik tentang hasil. Tanpa pengetahuan tentang hasil, tidak dapat terjadi perbaikan yang sistematis dalam belajar. Ungkapan ini menunjukkan betapa erat kaitan antara pengajaran dan evaluasi.
Penggunaan data yang diperoleh dari teknik evaluasi tergantung pada tujuan yang dicapai. Dari berbagai penggunaan tersebut, dapat kita golongkan dalam empat jenis, yaitu:
  1. Penggunaan administratif, yaitu untuk melengkapi catatan-catatan maupun laporan dan menjadi suatu dasar evaluasi perkembangan individu.
  2. Penggunaan instruksional, yaitu untuk menolong guru menentukan cara mengajar yang baik dan untuk menentukan status siswa dalam hubungannya dengan tujuan pokok kurikulum.
  3. Penggunaan bimbingan dan konseling, yaitu penggunaan data untuk memberikan bimbingan dalam hal memilih jurusan, mengubah program belajar, motivasi belajar, memilih sekolah lanjutan, mengenal minat dan kecakapan, dan pengembangan pribadi.
  4. Penggunaan untuk penyelidikan, yaitu untuk menemukan keefektifan metode mengajar, kebutuhan personal dan sosial peserta didik, eksprerimen yang berhubungan dengan kurikulum, serta hambatan-hambatan dalam belajar.
Program evaluasi adalah suatu program yang berisi ketentuan cara tentang penyelenggaraan atau pelaksanaan evaluasi pendidikan di sekolah dan merupakan pedoman bagi guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut. Namun sayangnya hampir semua sekolah tidak memiliki program evaluasi yang baik dan rinci padahal kemajuan hasil pendidikan seyogyanya dilakukan secara bersama-sama. Sistem kerja sama ini baik dijalankan apabila setiap guru menyadari tujuan bersama yang hendak dicapai dan guru mengetahui bagaimana melakukan evaluasi untuk mencapai tujuan bersamanya itu. Ciri-ciri program evaluasi yang baik di antaranya adalah: memiliki rancangan evaluasi yang komprehensif, perubahan tingkah laku individu harus mendasari penilaian pertumbuhan dan perkembangannya, hasil evaluasi kemudian disusun dan dikelompokkan untuk memudahkan interpretasi, dan program evaluasi harus berkesinambungan dan berkaitan dengan kurikulum.
Evaluasi pencapaian belajar siswa adalah salah satu kegiatan yang merupakan kewajiban bagi guru, sebab setiap guru pada akhirnya harus memberikan informasi kepada lembaga dan siswa itu sendiri. Banyak yang keliru menganggap bahwa fungsi penilaian semata-mata digunakan untuk menyeleksi peserta didik dalam kenaikan kelas/semester dan sebagai alat seleksi kelulusan pada program tertentu. Padahal selain itu, penilaian merupakan sarana untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan peserta didik secara maksimal. Artinya, penilaian ini tidak hanya untuk mengklasifikasikan, namun untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengajaran.
Ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam menyusun tes hasil belajar agar tes tersebut benar-benar mengukur tujuan pembelajaran yang telah diajarkan, yaitu:
  1. Tes hendaknya mengukur secara jelas hasil belajar yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan instruksional.
  2. Mengukur sampel yang representatif dari hasil belajar dan bahan pelajaran yang telah diajarkan.
  3. Mencakup bermacam-macam bentuk soal yang benar-benar cocok untuk mengukur hasil belajar yang diinginkan sesuai dengan tujuan.
  4. Didesain sesuai dengan kegunaannya untuk memperoleh hasil yang diinginkan.
  5. Dibuat seandal (reliable) mungkin sehingga mudah diinterpretasikan dengan baik.
  6. Digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa dan cara mengajar guru.
Ada dua jenis penilaian yang diterapkan dalam pembelajaran, yaitu:
  1. Penilaian formatif, yaitu kegiatan penilaian yang bertujuan untuk mendapatkan feedback yang selanjutnya hasil tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar-mengajat yang sedang atau telah dilaksanakan. Penilaian formatif tidak hanya dilakukan di akhir pelajaran, namun dapat dilakukan pada proses pembelajaran.
  2. Penilaian sumatif, adalah penilaian yang dilakukan untuk memperoleh data sejauh mana pengetahuan dan pencapaian belajar dalam jangka waktu tertentu. Fungsi dan tujuannya untuk menentukan seseorang dapat dinyatakan lulus atau tidak.
Dick dan Carey menjelaskan perbedaan criterion-referenced test dan norm-referenced test sebagai berikut:
  1. Criterion-referenced test adalah tes yang dirancang untuk mengukur seperangkat tujuan behavioral atau performance objectives. Ada dua pengertian criterion pada istilah tersebut, yaitu: menunjukkan hubungan antara tujuan denagn soal tes yang dibuat, dan menunjukkan spesifikasi ketetapan penampilan yang dituntut untuk dikuasai. Dalam hubungannya dengan proses belajar, ada 4 jenis CRT yang digunakan, yaitu:
  2. Entry-behaviors test, yaitu tes sebelum program dilaksanakan untuk mengukur batas kemampuan pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki. Hasil tes ini untuk menetapkan materi instruksional mana yang perlu direvisi atau tidak perlu diajarkan lagi.
  3. Pretest, yaitu tes yang diberikan sebelum pengajaran dimulai dan bertujuan untuk mengetahui batas penguasaan terhadap bahan ajar yang akan diajarkan.
  4. Post-test, yaitu tes yang diberikan diakhir program satuan pengajaran untuk mengetahui capaian siswa terhadap bahan pengajaran setelah mengalami suatu kegiatan belajar.
  5. Embedded test, yaitu tes yang dilaksanakan di sela-sela waktu dalam proses pengajaran dan merupakan data evaluasi formatif bagi pengajaran tersebut.
Penyusunan norm-referenced test tidak ditekankan untuk mengukur performa yang eksak dari behavioral objectives. Soal yang dikembangkan untuk NRT sengaja diadministrasikan untuk bermacam-macam siswa dari target polusi. Dari uraian di atas, terdapat tiga perbedaan pokok antara CRT dan NRT, yaitu:
  1. cara tiap jenis tes yang dikembangkan;
  2. standar yang digunakan untuk men-judge atau menginterpretasikan hasil tes; dan
  3. tujuan untuk apa tes itu disusun.
Ada empat tipe achievement test, yaitu: placement test, yaitu tes yang berfungsi untuk mengukur prerekuisit entry skills dan menentuan entry performance tentang tujuan pelajaran; formative test, yaitu tes yang digunakan sebagai balikan bagi guru dan siswa tentang kemajuan belajar; diagnostic test, yaitu tes yang menentukan kesulitan belajar yang sering muncul, dan; sumative test, yaitu tes yang menentukan kenaikan tingkat/kelas atau kelulusan pada akhir program pengajaran.
Banyak orang menyebutkan bahwa buku adalah jendela dunia. Buku dapat mengantarkan si pembaca untuk membuka wawasannya. Tak hanya informasi di dalam negeri, namun juga informasi tentang dunia luar, bahkan alam semesta ini. Singkatnya, semakin banyak yang kita baca, semakin banyak informasi yang dapat kita dapatkan, walaupun terkadang informasi tersebut didapatkan dengan cara yang tidak langsung.
Namun sayangnya di era ini, sulit rasanya untuk menemukan pelajar yang secara sadar memiliki kegemarab membaca. Kebanyakan mereka malah lebih memilih untuk menjajal konsol game baru, berselancar di internet, atau sekedar jalan-jalan bersama teman yang terkadang tak jelas arah tujuannya. Memang masih ada juga sebagian dari mereka yang gemar mengoleksi dan membaca novel dan komik. Hal ini tidak menjadi masalah selagi mereka masih mampu memanfaatkan waktu mereka dengan belajar atau membaca buku yang lebih informatif. Namun kenyataannya minat baca remaja kini amatlah rendah. Padahal, besar manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan membaca ini.
https://www.hitsss.com/5-buku-indonesia-terfavorit-sepanjang-masa-yang-wajib-kamu-baca/
Harus disadari secara umum budaya membaca di Indonesia masih memprihatinkan. Hasil survei dari salah satu perguruan tinggi di Amerika Serikat telah menempatkan Indonesia berada dalam urutan ke-60 dari 61 negara yang disurvei. Ya, urutan dua dari belakang! Indonesia hanya satu level lebih baik dari Botswana, sebuah negara miskin di benua Afrika. Survei tersebut memposisikan Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia sebagai lima negara dengan level literasi terbaik di dunia. Padahal, ketika ditinjau dari sisi infrastuktur  penunjang membaca, peringkat Indonesia berada di atas beberapa negara Uni Eropa. Penilaian berdasarkan infrastruktur ini menempatkan Indonesia pada urutan 34 di atas negara Jerman, Portugal, Selandia Baru dan Korea Selatan.
Hasil survei tersebut tidak berbeda jauh dengan hasil sensus yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006 yang menunjukkan bahwa 85,9% masyarakat Indonesia lebih memilih menonton televisi daripada mendengarkan radio (40,3%) dan membaca surat kabar (23,5%). Lebih lanjut, minat baca masyarakat yang berusia di atas 15 tahun menunjukkan 55% masyarakat lebih tertarik untuk membaca koran, 29% membaca majalah, 16% membaca buku cerita, dan 44% membaca buku teks pelajaran sekolah. Sementara jumlah masyarakat dalam rentang usia 15 hingga 59 tahun yang buta aksara masih tergolong tinggi, sekitar 5,9 juta atau 3,70% dari 81 juta orang. Anehnya, nilai riset pada Program for Internasional Student Assesment (PISA) Indonesia mendapatkan nilai rata-rata 493, sementara tingkat literasi Indonesia hanya bertengger pada nilai 396.
Data ini didukung pula oleh laporan statistik dari UNESCO pada tahun 2012. Laporan tersebut menyatakan, indeks minat baca di Indonesia hanya mencapai 0,001. Artinya, dari setiap 1.000 orang penduduk Indonesia, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan jika dibandingkan dengan budaya baca di kalangan pelajar di negara-negara lain. Disebutkan bahwa rata-rata lulusan SMA di Jerman telah membaca 32 judul buku, di Belanda sebanyak 30 buku, Rusia 12 buku, Jepang 15 buku, Brunei Darussalam 7 buku, Singapura 6 buku, dan Malaysia 6 buku. Bagaimana dengan Indonesia? Tak ada satupun laporan yang berani menyebutkannya walaupun hanya dengan 1 buku pun! Generani Indonesia adalah generasi yang lumpuh membaca.
Keluhan ini tidak bisa disimpulkan sebagai kelalaian guru di sekolah semata, namun harus dikembalikan lagi pada pembiasaan membaca ketika masih kecil, terutama di lingkungan rumah. Peranan orangtua lah yang lebih mendominasi pembentukan kebiasaan membaca pada anak. Bagaimana mungkin ada seorang anak yang bisa memiliki kebiasan membaca yang tinggi sementara orang tuanya risih mencontohkan dan enggan mengarahkan anaknya agar terbiasa membaca. Karena seseorang akan lebih mudah tertarik dan termotivasi untuk melakukan sesuatu jika dibarengi dengan keteladanan, bukan hanya sekedar teori atau memberi instruksi belaka. Ketika anak sudah menginjak usia sekolah baru lah guru yang memegang peran dalam mengembangkan minat baca agar dapat dibentuk menjadi kebiasaan. Dengan begitu, orang tua dan guru memiliki peran yang sama pentingnya dalam membentuk serta meningkatkan kebiasaan membaca sang anak.
Bagi anda yang termotivasi untuk memiliki kebiasaan membaca atau orang tua dan guru yang ingin membentuk kebiasaan membaca siswa, Guthrie dan Coddington (2009) menyatakan beberapa hal yang perlu diperhatikan , yaitu:
1. Perceived Autonomy 
Secara konseptual, perceived autonomy didefinisikan sebagai kemampuan diri untuk mampu memilih atau menentukan pilihannya berdasarkan keinginan dan pertimbangannya sendiri. Rasa kemandirian dalam membaca mengacu pada kebebasan seorang anak untuk memilih jenis buku atau genre yang diinginkannya serta kemerdekaannya dalam memilihi cara atau perilakunya dalam membaca. Kebebasan dalam dua hal ini dapat meningkatkan mood dari anak untuk membaca. Artinya, untuk memulai kebiasaan membaca, maka pilihlah jenis atau judul buku yang paling disenangi dan eksplorasi tempat dan gaya membaca yang membuat diri nyaman menyelesaikan lembar demi lembar buku tersebut
2. Self-Efficacy
Dalam teori sosial kognitif, self-efficacy diartikan sebagai keyakinan akan kemampuan individu untuk belajar atau melaksanakan suatu tindakan pada tingkatan tertentu. Self-efficacy dalam membaca merujuk pada keyakinan seseorang yang berhubungan dengan kemampuan dan keahliannya dalam membaca. Seorang pembaca yang memiliki efficacy yang tinggi yakin akan mampu menyelesaikan tebalnya buku yang ia baca dengan baik dan berkeinginan untuk mencoba bacaan yang lebih menantang.
3. Task Mastery Goal
Task mastery goal adalah keinginan untuk meningkatkan kemampuan dalam menguasai suatu keahlian tertentu atau keinginan untuk memahami suatu pelajaran. Seseorang yang berorientasi pada keinginan untuk menguasai sesuatu akan tekun dalam membaca, karena mereka memiliki gairah untuk menguasai hal tersebut dan memperoleh pemahaman dan pengetahuan yang lebih dalam. Sederhananya, ketika seseorang telah memiliki sebuah keinginan dan cita-cita yang jelas, maka ia akan mampu berlama-lama untuk membaca buku yang mendukung keinginan atau cita-citanya itu. Maka, mulailah membaca dengan menuliskan impian
4. Performance Goal
Performance Goal adalah perhatian seseorang terhadap kemampuan dan prestasinya di hadapan orang lain. Motivasi ini dapat digolongkan sebagai motivasi ekstrinsik untuk meraih prestasi dalam membaca dengan berkompetisi. Semakin besar jiwa kompetisi dan keinginan untuk berprestasi, maka semakin besar kekuatan untuk menikmati bahan bacaannya tersebut.
5. Social Motivation
Social Motivation (motivasi sosial) berhubungan dengan ketersediaannya orang lain yang bertindak sebagai sandaran, memungkinkan orang untuk menunjukkan kebergantungannya, semangat, keuletan dalam menghadapi rintangan. Dukungan sosial ini dapat mendukung kegigihan ketika menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan (mood berubah atau sedang tidak memiliki semangat). Maka dengan membentuk atau bergabung dengan perkumpulan pecinta membaca akan dengan sangat mudah menularkan kembali semangat membaca yang sedang menurun.
6. Value in Reading
Value (nilai) dalam hal ini berkaitan erat dengan dampak (makna dan manfaat) yang dirasakan oleh seseorang ketika membaca. Dampak yang dapat dirasakan secara langsung mampu menjadi obat yang manjur untuk menyembuhkan rasa malas membaca. Ketika membaca sebuah buku nonfiksi, seseorang akan dapat menikmatinya jika buku tersebut mampu memberikan manfaat langsung dalam hidupnya. Ketika ia membaca buku bergenre fiksi, seseorang akan mampu menyelesaikannya dengan mudah apabila ia bisa menikmati makna yang ditransfer oleh buku tersebut.

Rasanya tak ada yang mau menyangkal bahwa pendidikan merupakan satu-satunya cara untuk melahirkan generasi bangsa yang berkualitas untuk mewujudkan kemajuan peradaban suatu bangsa. Namun agaknya, aksioma ini tidak dimanifestasi dalam perlakuan yang serius oleh bangsa ini. Perlu diakui memang dalam APBN sektor pendidikan mendapatkan postur anggaran yang tidak sedikit. Setidaknya 20% dari seluruh mata anggaran dalam belanja negara kita digelontorkan ke dunia pendidikan. Tahun 2016, pemerintah mengalokasikan dana sekitar Rp. 419,176 triliun dari Rp. 2.095,7 trilyun total belanja negara.
Amat disayangkan rasanya ketika dengan dana pendidikan yang amat besar itu, kualitas pendidikan Indonesia masih jauh dari hal yang kita harapkan bersama. Di tahun 2015 misalnya, Laporan Tahunan UNICEF Indonesia menyebutkan bahwa 4,7 juta anak di bawah 18 tahun putus sekolah. Hanya 57% anak Indonesia yang berusia 16-18 yang mampu mengenyam bangku pendidikan SMA sederajat. Keadaan ini terlihat semakin parah di wilayah timur Indonesia. Di Papua hampir sepertiga anak usia sekolah mengalami putus sekolah.
Fakta di atas masih panorama pendidikan di permukaannya saja. Belum lagi ketika kita mencoba menyelaminya lebih detail, tentu kita akan menemukan berbagai permasalahan yang mewarnainya, mulai dari kekerasan, bullying, tawuran antar pelajar, penyalahgunaan narkoba, dan sebagainya. Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh International Center for Research on Women (ICRW) pada awal Maret 2015 yang menunjukkan fakta mencengangkan bahwa 84% anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah (selanjutnya, baca di sini). Untuk kasus tawuran, pada pertengahan tahun 2015 saja Polda Metro Jaya mencatat ada 63 kejadian. Bisa dibayangkan berapanya banyak kasus tawuran yang terjadi di seluruh Indonesia di sepanjang tahun. Ini menjadi mimpi buruk bagi kita semua sebagai bangsa, apabila generasi seperti ini yang akan memimpin negeri ini ke depan.
https://www.inspirasi.co/okif/37055_pendidikan-untuk-pembebasan
Pendidikan Salah Arah

Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanahkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Jika ditilik dari redaksinya, tujuan pendidikan Indonesia merupakan tujuan yang sangat sempurna. Generasi inilah yang sangat diimpikan oleh semua orang di negeri ini. Namun, bagaimana jika dilihat dari tingkat keberhasilannya? Banyakkah generasi kita yang memenuhi semua indikator tersebut melalui sistem pendidikan yang sedang berjalan saat ini? Sejauh ini, saya belum menemukan laporan dari studi yang terkait. Apakah memang belum pernah dilakukan, atau memang tidak mungkin dilakukan karena sulit membuat instrumen yang mampu mengukur indikator yang begitu sempurna tersebut? Kalaulah suatu tujuan dirancang tanpa diketahui cara mengukur dan mengevaluasinya, bagaimana cara untuk mengetahui tingkat keberhasilan suatu treatment untuk mencapai tujuan tersebut? Tentu tujuan itu akan menjadi absurd. Semoga saja itu tidak terjadi pada tujuan pendidikan nasional kita.
Melanjutkan hal tersebut, maka tak heran jika kita menemukan muatan kurikulum yang begitu padat dalam pendidikan Indonesia, mengingat tujuan pendidikan nasional kita yang tak kalah padatnya. Mereka harus menelan semua pelajaran tersebut dengan baik, persis sama seperti orang yang mulutnya dipenuhi dengan makanan namun tetap disuapi terus menerus. Alhasil, mereka menjadi “kekenyangan” dengan materi pelajaran bahkan ada sebagian dari mereka yang merasakan mual dan muntah. Hal ini bisa dengan mudah dilihat ketika menjelang pelaksanaan Ujian Nasional, sekolah-sekolah berlomba-lomba untuk menyediakan “makanan tambahan” untuk dilahap oleh para siswanya. Semuanya dilakukan dengan dalih, agar bisa lulus ujian dengan nilai yang baik.

“Semua orang itu cerdas, namun bila engkau menilai ikan dari kemampuannya untuk memanjat, selamanya kau akan mempercayai bahwa ikan itu bodoh” (Albert Einstein)

Orientasi pendidikan yang lebih menitikberatkan kepada angka-angka semata juga menjadi hal yang memprihatinkan. Siswa belajar hanya untuk mengejar nilai yang bagus saat ujian, bukan untuk memahami pelajaran tersebut agar kemudian dapat diaplikasikan dalam kehidupan. Fenomena ini menjadi ladang penghasilan bagi “pelacur-pelacur pendidikan” yang bersedia menyulap angka-angka sesuai dengan pesanan, bahkan ada yang bersedia memperjualbelikan ijazah hanya dengan beberapa lembar uang kertas.
Kenyataan yang terpampang di depan kita telah menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan Indonesia bukan semata hanya berhubungan dengan anggaran pendidikan semata. Lebih daripada itu, Indonesia membutuhkan sistem pendidikan yang baik. Karena hanya dengan keberhasilan dalam merancang sistem pendidikanlah, bangsa ini akan mampu keluar dari kompleksitas permasalahan ini.


Pendidikan Humanis Sebagai Solusi

Pendidikan yang humanis adalah pendidikan yang mengaplikasikan konsep-konsep humanistik dalam upaya membimbing peserta didik. Pada prinsipnya, humanisme adalah paham akan eksistensi manusia yang harus terselamatkan dari doktrin-doktrin teologis yang mengekang manusia dan berupaya melepaskannya dari simpul-simpul doktrin tersebut. Hal ini wajar dan logis, ketika para dewa dalam mitologi Yunani Kuno dianggap sebagai penguasa atas segala sesuatu dan merupakan perwujudan dari kekuatan fisik yang terdapat di alam semesta ini. (Mukhlas, 2007). Sebagai negara yang mengakui akan eksistensi agama, maka humanisme yang dibutuhkan bangsa Indonesia adalah humanisme religius, humanisme yang tidak bisa dilepaskan dari kesadaran bahwa manusia adalah makhluk tuhan yang memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mengelola alam (Mas’ud, 2002).
Secara sederhana, teori humanistik adalah teori yang bertujuan memanusiakan manusia. Artinya, sikap dan perilaku tiap orang ditentukan oleh dirinya sendiri dan memahami manusia terhadap lingkungan dan dirinya sendiri. Paradigma pendidikan humanistik memandang manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan dengan seperangkat fitrah tertentu yang dimilikinya (Makin, 2009). Pendidikan ini memberikan kesempatan yang luas kepada peserta didiknya untuk bergerak secara bebas dan memilih aktivitas belajar mereka sendiri. Pendidik berperan sebagai fasilitator dan pembimbing sementara peserta didik tidak hanya sekedar duduk mendengarkan materi yang disampaikan, melainkan juga mereka juga diharapkan mampu bekerja dengan baik secara individu ataupun berkelompok untuk mengeksplorasi bidang-bidang pelajaran, mengusulkan topik-topik pelajaran, sehingga dapat membantu mewujudkan bakat dan minat mereka. Dengan demikian, peserta didik akan menemukan dan merasakan kebermaknaan dari pelajaran yang disajikan di dalam ruangan kelas, bukan hanya pembelajaran yang berorientasi pada pengerjaan soal-soal yang berakhir dengan angka-angka di atas buku laporan karena tujuan utama seorang pendidik adalah untuk membantu siswa mengembangkan diri sendirinya dengan cara membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia dalam mewujudkan semua potensi yang ada dalam dirinya.
Untuk mewujudkan pendidikan yang humanis, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bersama, di antaranya:
  1. Peserta didik diberikan kesempatan dan kebebasan untuk mengeksplorasi diri, merasa aman dan bebas dalam menyampaikan pendapat yang berkaitan dengan materi pembelajaran, dan tidak ada klasifikasi atau pembedaan atas dasar tingkat kecerdasan. Semua anak memiliki kesempatan yang sama dalam akses belajar dengan penuh penghargaan, tanpa harus merasakan ketidaknyamaan karena ejekan ataupun hinaan.
  2. Ketersediaan fasilitas atau dapat memudahkan proses belajar mengajar. Hal ini menjadi sangat penting, karena proses belajar mengajar disajikan dengan berbagai macam cara, bukan hanya dengan cara yang konvensional: guru mengajar, murid belajar; guru menjelaskan, murid mendengar.
  3. Suasana kelas yang penuh dengan kasih sayang, kehangatan, penghormatan dan keterbukaan. Pendidik bersedia untuk mendengarkan keluh kesah peserta didik dengan rasa aman dan nyaman serta mampu menjaga kerahasiaannya. Pendidik diharapkan tidak hanya memberikan perlakuan klasikal terhadap peserta didiknya, namun mampu pula menghadirkan pelakukan individual sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya masing-masing
  4. Meminimalisasi tes yang bersifat formal. Penilaian lebih berfokus pada pengalaman belajar dengan membuat catatan dan penilaian secara individual.
  5. Penghargaan yang tinggi terhadap kreativitas, serta mendorong prestasi dan keberagaman kemampuan yang dimiliki peserta didiknya.
Pendidikan yang humanis yang akan melahirkan generasi yang mampu menghargai dirinya dan orang lain. Mereka akan lebih terbiasa untuk berkolaborasi dengan sesamanya ketimbang untuk berkompetisi. Peserta didik akan merasakan kebermaknaan pembelajaran yang sungguhnya sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan yang nyata. Dengan begitu, akan lahirlah generasi muda emas Indonesia yang nantinya akan mampu membawa Indonesia menjadi negara yang memiliki peradaban yang maju dan unggul di mata dunia. Semoga!