Kamis, 21 Desember 2017

Self-Fulfilling Prophecy: Prasangka Yang Terwujud

Dikisahkan dua orang guru yang diminta untuk membimbing siswanya untuk mengikuti seleksi Olimpiade Sains Nasional. Sebut saja mereka adalah Ardi dan Dika. Keduanya menjalani tugasnya sebagai pembimbing, namun mereka menjalaninya dengan cara yang tidak sama. Menurut siswanya, Ardi adalah guru yang pintar tapi mengerikan. Ia cenderung memberikan respon dengan cara yang frontal dan agresif. Mereka belajar dalam tekanan dan target. Tak jarang Ardi berkata kepada mereka bahwa mereka adalah orang yang tak berguna saat  tak mampu memberikan performa sesuai dengan yang diharapkannya. Dalam gumamnya, mereka adalah siswa yang berintelektualitas rendah dan tak bisa diandalkan.
Berbeda dengan Ardi, Dika adalah guru yang menyenangkan bagi  siswanya. Dia adalah guru yang sabar menghadapi siswanya yang lamban (slow learner). Bukan hanya itu, Dika selalu memberikan semangat dan menularkan optimisme kepada siswanya. Dia meyakinkan mereka bahwa mereka memiliki potensi dan kehebatan yang mesti mereka asah. Bagi Dika, mendidik bukan hanya mentransfer ilmu, namun juga berupaya untuk membangkitkan potensi yang mereka miliki.
Singkat cerita, hari seleksi pun tiba. Menjelang perlombaan, dengan ketus Ardi berkata kepada siswanya, “Memalukan kalau kompetisi skala begini kamu bisa kalah. ” Sementara Dika hanya tersenyum kepada siswanya dan berkata, “Kamu harus yakinkan diri kamu, kalau kamu mampu mempersembahkan yang terbaik.” Pertandingan pun usai dan hasil akhir pun diumumkan. Terlihat begitu kesalnya Ardi ketika siswa binaanya tak mampu menjadi pemenang,  hanya bertengger di posisi ketiga, sementara posisi pemenang ditempati oleh siswa binaan Dika.

Cerita di atas bukanlah sekedar ilustrasi. Sering kita temukan kisah-kisah serupa yang menunjukkan bahwa optimisme yang ditularkan menjadi sumber kekuatan baru untuk bangkit dan berprestasi. Dalam kajian psikologi, peristiwa seperti ini diistilahkan dengan "Self-fulfilling Prophecy". Self-fulfilling prophecy atau yang dalam Bahasa Indonesia dipadanankan dengan istilah "Ramalan Swawujud" adalah prakiraan atau prediksi yang dilakukan baik secara langsung atau tidak langsung yang membuat sebuah keadaan terwujud sesuai dengan yang diyakini. Istilah ini pertama sekali dicetuskan oleh Robert K. Merton, seorang sosiolog di abad ke-20, yang diilustrasikan di dalam bukunya yang berjudul Social Theory and Social Culture.

Teori ini telah diuji dengan dilakukannya studi eksperimen terhadap tiga kelompok yang memiliki kapabilitas yang relatif sama. Kelompok pertama adalah kelompok yang pemimpinnya memberikan ekspektasi dan menularkan optimisme kepada bawahannya bahwa mereka akan mampu mencapai kinerja lebih dari ditarget yang diinginkan. Kelompok kedua adalah kelompok yang pemimpinnya menyatakan bawahannya hanyalah orang yang biasa-biasa saja, sehingga kalaulah bisa mencapai kinerja 80% dari yang ditargetkan, itu sudah lumayan. Sementara sebagai kelompok kontrol, kelompok ketiga tidak diberikan ekspektasi dan penilaian apapun. Kelompok ini berjalan sebagaimana adanya.Ternyata, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok pertama mampu menghasilkan kinerja sangat baik, jauh di atas target yang berikan. Kelompok kedua menunjukkan kinerja yang tidak memuaskan dibandingkan kelompok ketiga yang dijadikan kelompok kontrol.
Kajian tentang self-fulfilling prophecy menjelaskan bahwa suatu prediksi atau ramalan baik yang bersifat positif atau negatif, keyakinan yang dipegang erat baik untuk diri sendiri ataupun orang lain yang dianggap kuat sebagai sebuah kebenaran—padahal belum tentu benar—dapat memberikan pengaruh kepada diri sendiri atau seseorang sehingga menimbulkan reaksinya sendiri yang  justru mengakibatkan keyakinannya terwujud.
Bagi seorang pendidik—baik guru di sekolah ataupun orang tua di rumah—temuan ini harus menjadi sebuah perhatian yang serius. Ketika seorang guru atau orang tua memiliki keyakinan bahwa siswa atau anaknya memiliki kompetensi di bawah rata-rata akan membuat prasangka buruk ini akan terwujud dengan sendirinya. Prasangka yang timbul ini secara tidak sadar telah menggiring kita untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya akan membantu hal itu akan terwujud. Guru yang berprasangka bahwa siswanya adalah siswa yang bodoh akan membuat sang guru tidak menampilkan performanya secara maksimal, bahkan terkesan ogah-ogahan dalam mengajar. Sebaliknya, guru yang memiliki pikiran positif dan optimisme yang tinggi akan kemampuan siswanya secara tidak sadar akan menularkan semangat dan energi yang luar biasa untuk membuat siswanya mampu menguasai kompetensi yang diajarkan.
Teori self-fulfilling prophecy ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya optimisme seorang pengajar di kala menghadapi siswanya. Guru yang optimis dengan kemampuan siswanya akan melahirkan generasi yang hebat, sebaliknya guru yang pesimis akan menghasilkan anak-anak yang lemah, sesuai apa yan disangkakannya. Maka, wahai pendidik, berprasangkalah yang baik!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar