Jumat, 22 Desember 2017

Meredefinisi Reward dan Punishment dalam Dunia Pendidikan

Kembali dunia pendidikan Indonesia harus menelan pil pahit. Kali ini, kasus datang dari seorang guru SMP di Sidoarjo yang harus diadili di persidangan akibat menghukum seorang siswanya dengan cubitan di lengan kanan siswa tersebut. Kejadian ini pun menyita perhatian guru-guru di Indonesia dan mengundang aksi simpatik dari para guru, salah satunya adalah aksi simpatik para guru di Kota Delta terhadap rekannya, SB (45), guru SMP Raden Rahmat yang menjadi tersangka yang sedang menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo.
sumber: www.sciencedaily.com/releases/2016/10/161005090700.html
Kasus ini bukan lah hal yang baru di kalangan guru. Sebelumnya, kasus orang tua siswa kelas 4 SD Antonius Matraman Jakarta Timur berinisial KN yang melaporkan gurunya Inho Loe karena diduga mencubit KN pada saat mengajar. Laporan masuk ke PPA Polres Jakarta Timur pada Jumat (10/6). Di tambah pula beredarnya sebuah kabar bahwa seorang guru SD di Majalengka, Jawa Barat nyaris mendekam dalam tahanan akibat dari kegiatannya mendisiplinkan para siswa yang berambut gondrong. Di Banyuwangi, terjadi pula kejadian serupa. Seorang guru SD harus menghadapi pengadilan karena menindak siswanya yang "menhajar" 4 orang teman sekelasnya. Orang tua siswa yang mendengar kejadian itu tak terima anaknya diperlakukan dengan cara yang demikian. Kasus ini menyebabkan sang guru harus berurusan dengan hukum.
Kasus “serang balas” terhadap guru terjadi bukan hanya akibat memberikan hukuman fisik saja. Seorang guru honorer di Kalimantan Barat bernama JM (39) mendapat perbuatan tidak menyenangkan dari orang tua murid di sekolah tempat ia mengajar dengan mencukur rambut JM karena merasa tidak terima jika rambut anaknya dipotong oleh sang guru. Kasus yang hampir sama juga menimpa AS beberapa tahun lalu, yang mencukur siswa SD kelas III karena rambutnya gondrong. Orang tua siswa, IH, tidak terima dan mencukur balik sang guru. Kasus ini lalu berlanjut ke pengadilan.
Rentetan kasus ini menbuat para guru was-was jika ingin menghukum siswanya yang telah melakukan pelanggaran. Di satu sisi, guru diberikan tugas untuk mendidik dan mengajar para siswa serta menegakkan aturan dan disiplin di sekolah, namun di sisi lain guru dibayang-bayangi rasa kekhawatiran dengan hukum pidana yang sewaktu-waktu akan bisa saja menjeratnya ketika sedang memberikan teguran atau hukuman atas pelanggaran yang dilakukan oleh siswanya.
Perlu diakui bahwa miris rasanya menjadi seorang guru yang dituntut harus bekerja secara profesional, namun dirinya tidak dilindungi oleh instrumen hukum yang menjamin aman dirinya dalam menjalankan tugas keprofesionalannya itu. Amat berbeda dengan profesi-profesi lainnya yang memiliki sidang kode etik khusus terkait dugaan pelanggaran yang dilakukan, sebelum perkara tersebut dilimpahkan ke ranah hukum. Jadi, apa yang harus dilakukan para pendidik sehingga mereka tetap merasa aman dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik? Apakah seorang guru harus bersikap tak acuh dengan pelanggaran yang dilakukan oleh siswa dengan membiarkan perilakunya tersebut terjadi akibat dari guru merasa takut terlibat dengan kasus pidana? Tentunya kita semua berharap hal itu tidak terjadi, karena bagaimana pun guru merupakan orang yang sangat berjasa dalam kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun kehidupan berbangsa bernegara. Lantas, apa yang salah dengan hukuman (punishment) yang dilakukan seorang guru terhadap muridnya yang “bersalah”? Tulisan ini mencoba untuk mengajak siapa saja, terutama pendidik dan orang tua, untuk memahami hakikat sebuah punishment dalam bingkai pendidikan melalui sudut pandang psikologi pendidikan
“Penghargaan” (reward) dan “hukuman” (punishment) merupakan istilah yang digunakan dalam teori-teori behaviorisme. Telah diyakini sejak lama, bahwa umumnya manusia cenderung memilih sesuatu yang memiliki konsekuensi yang menyenangkan dan menghindari hal-hal yang dapat memberikan konsekuensi hukuman. Keyakinan ini lah yang menjadi salah satu pilar teori behaviorisme. Dari semua pendukung teori behaviorisme, teori Skinner dianggap memiliki pengaruh yang paling besar terhadap perkembangan teori belajar. B.F. Skinner dikenal sebagai tokoh behavioris berkebangsaan Amerika meyakini bahwa perilaku individu dapat dikontrol melalui proses operant conditioning dimana seorang dapat mengontrol tingkah laku individu tersebut melalui sebuah reinforcement (penguatan).
Dua orang ahli psikologi yang dianggap mempengaruhi pandangan Skinner adalah Edward L. Thorndike dan John B. Watson. Edward L. Thorndike adalah seorang ahli psikologi pertama yang mempelajari akibat dari tingkah laku secara sistematis. Dalam penelitiannya Thorndike mengobservasi bahwa dalam pembelajaran akan lebih banyak didapatkan karena efek dari mengikuti suatu respon. Hasil pengamatan ini disebut sebagai Law of Effect. Skinner mengakui bahwa Law of Effect berperan penting dalam kontrol tingkah laku. Skinner juga sepakat bahwa dalam pembentukan perilaku manusia, efek terhadap penghadiahan lebih dapat diprediksi dibanding efek terhadap pemberian hukuman. Singkatnya, pemberian reward justru lebih efektif memberikan efek dibandingkan pemberian punishment kepada siswa.
Tokoh selanjutnya adalah John B. Watson. Ia meyakini bahwa kesadaran dan introspeksi tidak memainkan peran dalam pembelajaran ilmiah terhadap perilaku manusia.  Dalam Psychology as the Behaviorist Views, Watson berpendapat bahwa perilaku manusia sama dengan hewan dan mesin, yang dapat dipelajar. Seperti yang dinyatakan oleh Thorndike dan Watson, Skinner menggarisbawahi bahwa perilaku manusia harus dipelajari secara ilmiah. Scientific Behaviorism yang dianut Skinner berpegang teguh bahwa perilaku akan jauh lebih baik dipelajari tanpa referensi mengenai keinginan, naluri, dan motivasi.
Skinner membedakan dua jenis perilaku, yaitu: respondent behavior (perilaku responden) yang ditimbulkan oleh stimulus yang dikenali; dan operant behavior (perilaku operan), yang tidak diakibatkan oleh stimulus yang tidak dikenal tetapi dilakukan sendiri oleh individu. Respon yang tidak terkondisikan atau unconditioned response adalah contoh dari perilaku responden karena respon ini ditimbulkan oleh stimuli yang tak terkondisikan. Contohnya adalah gerak-gerak refleks, seperti menarik tangan saat tertusuk duri, menutup mata saat tersorot oleh cahaya yang silau, dan keluarnya air liur secara otomatis saat melihat makanan yang kita sukai. Karena perilaku operan pada awalnya tidak berkorelasi dengan stimuli yang dikenali, maka perilaku ini tampak spontan. Contohnya adalah tindakan ketika hendak bersiul, berdiri lalu berjalan, atau anak yang meninggalkan satu mainan dan beralih pada mainan lainya.
Teori Behaviorisme dalam Perspektif B. F. Skinner

Berdasarkan dua jenis perilaku tersebut, maka terdapat dua jenis pengkondisian. Pengkondisian Tipe S atau respondent conditioning (pengkondisian responden), dan Pengkondisian R atau operant conditioning (pengkondisian operan). Pengkondisian tipe ini disebut juha Pengkondisian Tipe S sebab tipe ini berfokus pada pentingnya stimulus dalam upaya menimbulkan respon yang diinginkan. Sedangkan Pengkondisian Tipe R adalah tipe pengkondisian yang menyangkut perilaku operan karena penekanannya adalah pada respon. Belajar menurut operant conditioning adalah proses di mana suatu respon dibentuk karena diperkuat oleh perubahan tingkah laku setelah respon terjadi. Contoh sederhananya ialah apabila seorang siswa sedang giat-giat belajar kemudian guru memberikan senyuman seraya pujian, maka perilaku guru akan menimbulkan kekuatan pada diri siswa untuk belajar lebih giat lagi.
Pemilik teori ini menyatakan bahwa unsur terpenting dalam proses pembelajaran adalah penguatan (reinforcement), artinya suatu perilaku individu akan semakin menguat bila diberi suatu reinforcement. Skinner membagi reinforcement ini menjadi dua jenis, yaitu positive reinforcement (penguatan positif) dan negative reinforcement (penguatan negatif). Positive reinforcement sebagai stimulus, dapat meningkatkan terjadinya repetisi atau pengulangan suatu perilaku, sedangkan negative reinforcement adalah hal-hal yang berimplikasi pada pelemahan atau penghilangan suatu perilaku. Bentuk-bentuk positive reinforcement ini dapat berupa pemberian hadiah, pemberian perilaku menyenangkan, atau pemberian penghargaan. Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: penundaan pemberian penghargaan, pemberian tugas-tugas tambahan atau pemberian perilaku yang tidak menyenangkan.
Namun oleh seorang pendidik, penerapan teori Skinner dianggap sebagai sebuah dalil pembenaran dalam menggunakan hukuman sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa. Padahal menurut Skinner, hukuman yang dianggap baik adalah ketika hukuman tersebut dapat membuat siswa mampu merasakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya itu.. Kekeliruan pendidik juga terjadi dalam memahami definisi hukuman. Pemberian hukuman dalam pandangan teori ini dapat diberikan dalam dua macam bentuk yaitu, yang pertama adalah mengadakan perlakuan yang tidak menyenangkan. Bentuk hukuman yang seperti ini adalah bentuk hukuman yang umum diberikan oleh para guru. Bentuk hukuman yang kedua adalah meniadakan perlakuan yang menyenangkan, sebagai contoh orang tua yang mencabut izin bermain game sebagai hukuman atas kesalahannya.
Penggunaan hukuman bentuk yang pertama, terutama hukuman yang bersifat verbal maupun fisik seperti: perkataan kasar, hinaan, jeweran, ataupun cubitan justru akan berdampak buruk, terutama pada kejiwaan seorang siswa. Siswa yang mengalami perlakuan tersebut akan melakukan salah satu dari hal sebagai berikut:
  1. Fly, yaitu menjauhi sosok orang yang melalukan hal itu kepadanya;
  2. Fight, yaitu melakukan perlawanan, baik secara verbal maupun fisik; dan
  3. Freeze, yaitu merasakan ketakutan psikologis dalam dirinya.
Namun apabila hukuman dianggap tetap harus diberikan, maka hukuman dalam bentuk kedua menjadi alternatif pilihan yang lebih baik. Di samping itu, kesalahan dalam reinforcement positif juga terjadi di dalam situasi pendidikan di negara ini, sebagai contoh adalah pemberian peringkat kelas yang menyebabkan siswa harus mahir dalam semua mata pelajaran. Seharusnya, setiap anak diberikan reinforcement sesuai dengan bakat dan kemampuan yang ditunjukkannya sesuai dengan prestasi siswa dalam bidang-bidangnya masing-masing.
Sebagai seorang pendidik, perlu disadari bahwa setiap aktivitas, perlakuan, dan keputusan yang diambil oleh seorang guru harus lah didasari dengan tujuan untuk mendidik. Kegiatan pendidikan yang dilakukan di dalam kelas juga harus bersifat ilmiah, artinya semua kegiatan mendidik yang dilakukan harus bersumber dari konsep dan teori yang jelas dan terukur, bukan dilandasi oleh konsep “rasa-rasanya” yang cenderung bersifat subjektif dan emosional. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru dapat dianggap profesional dan ilmiah, karena dilandasi oleh kaidah-kaidah keilmuan yang teruji dan terukur, sehingga kedepan profesi mendidik seorang guru akan lebih dihargai. Tentunya perlindungan terhadap guru harus segera diwujudkan agar tercipta lingkungan pembelajaran yang baik di masa mendatang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar