Jumat, 22 Desember 2017

Merajut Pendidikan Yang Humanis


Rasanya tak ada yang mau menyangkal bahwa pendidikan merupakan satu-satunya cara untuk melahirkan generasi bangsa yang berkualitas untuk mewujudkan kemajuan peradaban suatu bangsa. Namun agaknya, aksioma ini tidak dimanifestasi dalam perlakuan yang serius oleh bangsa ini. Perlu diakui memang dalam APBN sektor pendidikan mendapatkan postur anggaran yang tidak sedikit. Setidaknya 20% dari seluruh mata anggaran dalam belanja negara kita digelontorkan ke dunia pendidikan. Tahun 2016, pemerintah mengalokasikan dana sekitar Rp. 419,176 triliun dari Rp. 2.095,7 trilyun total belanja negara.
Amat disayangkan rasanya ketika dengan dana pendidikan yang amat besar itu, kualitas pendidikan Indonesia masih jauh dari hal yang kita harapkan bersama. Di tahun 2015 misalnya, Laporan Tahunan UNICEF Indonesia menyebutkan bahwa 4,7 juta anak di bawah 18 tahun putus sekolah. Hanya 57% anak Indonesia yang berusia 16-18 yang mampu mengenyam bangku pendidikan SMA sederajat. Keadaan ini terlihat semakin parah di wilayah timur Indonesia. Di Papua hampir sepertiga anak usia sekolah mengalami putus sekolah.
Fakta di atas masih panorama pendidikan di permukaannya saja. Belum lagi ketika kita mencoba menyelaminya lebih detail, tentu kita akan menemukan berbagai permasalahan yang mewarnainya, mulai dari kekerasan, bullying, tawuran antar pelajar, penyalahgunaan narkoba, dan sebagainya. Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh International Center for Research on Women (ICRW) pada awal Maret 2015 yang menunjukkan fakta mencengangkan bahwa 84% anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah (selanjutnya, baca di sini). Untuk kasus tawuran, pada pertengahan tahun 2015 saja Polda Metro Jaya mencatat ada 63 kejadian. Bisa dibayangkan berapanya banyak kasus tawuran yang terjadi di seluruh Indonesia di sepanjang tahun. Ini menjadi mimpi buruk bagi kita semua sebagai bangsa, apabila generasi seperti ini yang akan memimpin negeri ini ke depan.
https://www.inspirasi.co/okif/37055_pendidikan-untuk-pembebasan
Pendidikan Salah Arah

Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanahkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Jika ditilik dari redaksinya, tujuan pendidikan Indonesia merupakan tujuan yang sangat sempurna. Generasi inilah yang sangat diimpikan oleh semua orang di negeri ini. Namun, bagaimana jika dilihat dari tingkat keberhasilannya? Banyakkah generasi kita yang memenuhi semua indikator tersebut melalui sistem pendidikan yang sedang berjalan saat ini? Sejauh ini, saya belum menemukan laporan dari studi yang terkait. Apakah memang belum pernah dilakukan, atau memang tidak mungkin dilakukan karena sulit membuat instrumen yang mampu mengukur indikator yang begitu sempurna tersebut? Kalaulah suatu tujuan dirancang tanpa diketahui cara mengukur dan mengevaluasinya, bagaimana cara untuk mengetahui tingkat keberhasilan suatu treatment untuk mencapai tujuan tersebut? Tentu tujuan itu akan menjadi absurd. Semoga saja itu tidak terjadi pada tujuan pendidikan nasional kita.
Melanjutkan hal tersebut, maka tak heran jika kita menemukan muatan kurikulum yang begitu padat dalam pendidikan Indonesia, mengingat tujuan pendidikan nasional kita yang tak kalah padatnya. Mereka harus menelan semua pelajaran tersebut dengan baik, persis sama seperti orang yang mulutnya dipenuhi dengan makanan namun tetap disuapi terus menerus. Alhasil, mereka menjadi “kekenyangan” dengan materi pelajaran bahkan ada sebagian dari mereka yang merasakan mual dan muntah. Hal ini bisa dengan mudah dilihat ketika menjelang pelaksanaan Ujian Nasional, sekolah-sekolah berlomba-lomba untuk menyediakan “makanan tambahan” untuk dilahap oleh para siswanya. Semuanya dilakukan dengan dalih, agar bisa lulus ujian dengan nilai yang baik.

“Semua orang itu cerdas, namun bila engkau menilai ikan dari kemampuannya untuk memanjat, selamanya kau akan mempercayai bahwa ikan itu bodoh” (Albert Einstein)

Orientasi pendidikan yang lebih menitikberatkan kepada angka-angka semata juga menjadi hal yang memprihatinkan. Siswa belajar hanya untuk mengejar nilai yang bagus saat ujian, bukan untuk memahami pelajaran tersebut agar kemudian dapat diaplikasikan dalam kehidupan. Fenomena ini menjadi ladang penghasilan bagi “pelacur-pelacur pendidikan” yang bersedia menyulap angka-angka sesuai dengan pesanan, bahkan ada yang bersedia memperjualbelikan ijazah hanya dengan beberapa lembar uang kertas.
Kenyataan yang terpampang di depan kita telah menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan Indonesia bukan semata hanya berhubungan dengan anggaran pendidikan semata. Lebih daripada itu, Indonesia membutuhkan sistem pendidikan yang baik. Karena hanya dengan keberhasilan dalam merancang sistem pendidikanlah, bangsa ini akan mampu keluar dari kompleksitas permasalahan ini.


Pendidikan Humanis Sebagai Solusi

Pendidikan yang humanis adalah pendidikan yang mengaplikasikan konsep-konsep humanistik dalam upaya membimbing peserta didik. Pada prinsipnya, humanisme adalah paham akan eksistensi manusia yang harus terselamatkan dari doktrin-doktrin teologis yang mengekang manusia dan berupaya melepaskannya dari simpul-simpul doktrin tersebut. Hal ini wajar dan logis, ketika para dewa dalam mitologi Yunani Kuno dianggap sebagai penguasa atas segala sesuatu dan merupakan perwujudan dari kekuatan fisik yang terdapat di alam semesta ini. (Mukhlas, 2007). Sebagai negara yang mengakui akan eksistensi agama, maka humanisme yang dibutuhkan bangsa Indonesia adalah humanisme religius, humanisme yang tidak bisa dilepaskan dari kesadaran bahwa manusia adalah makhluk tuhan yang memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mengelola alam (Mas’ud, 2002).
Secara sederhana, teori humanistik adalah teori yang bertujuan memanusiakan manusia. Artinya, sikap dan perilaku tiap orang ditentukan oleh dirinya sendiri dan memahami manusia terhadap lingkungan dan dirinya sendiri. Paradigma pendidikan humanistik memandang manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan dengan seperangkat fitrah tertentu yang dimilikinya (Makin, 2009). Pendidikan ini memberikan kesempatan yang luas kepada peserta didiknya untuk bergerak secara bebas dan memilih aktivitas belajar mereka sendiri. Pendidik berperan sebagai fasilitator dan pembimbing sementara peserta didik tidak hanya sekedar duduk mendengarkan materi yang disampaikan, melainkan juga mereka juga diharapkan mampu bekerja dengan baik secara individu ataupun berkelompok untuk mengeksplorasi bidang-bidang pelajaran, mengusulkan topik-topik pelajaran, sehingga dapat membantu mewujudkan bakat dan minat mereka. Dengan demikian, peserta didik akan menemukan dan merasakan kebermaknaan dari pelajaran yang disajikan di dalam ruangan kelas, bukan hanya pembelajaran yang berorientasi pada pengerjaan soal-soal yang berakhir dengan angka-angka di atas buku laporan karena tujuan utama seorang pendidik adalah untuk membantu siswa mengembangkan diri sendirinya dengan cara membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia dalam mewujudkan semua potensi yang ada dalam dirinya.
Untuk mewujudkan pendidikan yang humanis, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bersama, di antaranya:
  1. Peserta didik diberikan kesempatan dan kebebasan untuk mengeksplorasi diri, merasa aman dan bebas dalam menyampaikan pendapat yang berkaitan dengan materi pembelajaran, dan tidak ada klasifikasi atau pembedaan atas dasar tingkat kecerdasan. Semua anak memiliki kesempatan yang sama dalam akses belajar dengan penuh penghargaan, tanpa harus merasakan ketidaknyamaan karena ejekan ataupun hinaan.
  2. Ketersediaan fasilitas atau dapat memudahkan proses belajar mengajar. Hal ini menjadi sangat penting, karena proses belajar mengajar disajikan dengan berbagai macam cara, bukan hanya dengan cara yang konvensional: guru mengajar, murid belajar; guru menjelaskan, murid mendengar.
  3. Suasana kelas yang penuh dengan kasih sayang, kehangatan, penghormatan dan keterbukaan. Pendidik bersedia untuk mendengarkan keluh kesah peserta didik dengan rasa aman dan nyaman serta mampu menjaga kerahasiaannya. Pendidik diharapkan tidak hanya memberikan perlakuan klasikal terhadap peserta didiknya, namun mampu pula menghadirkan pelakukan individual sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya masing-masing
  4. Meminimalisasi tes yang bersifat formal. Penilaian lebih berfokus pada pengalaman belajar dengan membuat catatan dan penilaian secara individual.
  5. Penghargaan yang tinggi terhadap kreativitas, serta mendorong prestasi dan keberagaman kemampuan yang dimiliki peserta didiknya.
Pendidikan yang humanis yang akan melahirkan generasi yang mampu menghargai dirinya dan orang lain. Mereka akan lebih terbiasa untuk berkolaborasi dengan sesamanya ketimbang untuk berkompetisi. Peserta didik akan merasakan kebermaknaan pembelajaran yang sungguhnya sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan yang nyata. Dengan begitu, akan lahirlah generasi muda emas Indonesia yang nantinya akan mampu membawa Indonesia menjadi negara yang memiliki peradaban yang maju dan unggul di mata dunia. Semoga!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar