Jumat, 22 Desember 2017

Cerdas Di Dunia Maya

Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat mau tak mau sudah menggiring manusia masuk ke dalam era dimana informasi tersedia bak kacang goreng. Semua orang dengan sangat mudah dapat mengakses informasi yang ingin ia temukan tanpa perlu bersusah payah. Cukup dengan mengetikkan frase atau kalimat yang ingin ia dapatkan di gadget yang ada dalam genggaman tangannya, maka dengan sekejap mata berjuta informasi terpampang di hadapannya. Malah, perkembangan teknologi saat ini memungkinkan penggunanya tidak perlu repot-repot mengetikkannya lagi, hanya dengan mendekatkannya ke mulut kemudian ucapkan kata-katanya maka dengan cerdasnya piranti itu akan mengonversi suara itu menjadi tulisan dan kembali rentetan informasi yang dibutuhkan tersaji. Begitu mudah bukan?
Tidak hanya itu, terkadang tanpa diminta pun kita dengan sangat mudah mendapatkan informasi. Tak jarang kita menerima broadcast message (pesan siar) dari teman-teman di media sosial dari Whatsapp (WA) dan Blackberry Messenger (BBM), di-tag  informasi melalui Facebook, diretwett kabar dari Twitter, dan banyak lagi jenis media untuk bercengkerama di dunia maya. Bagaimana tidak hal itu mudah dilakukan, mereka cukup menandai orang-orang yang ada dalam akunnya—malah bisa ditandai sekaligus—kemudian tekan “Kirim” atau “Send” maka dengan biaya yang murah, informasi tersebut telah melanglang buana melintasi berbagai wilayah bahkan negara. Pun tak jarang, kita juga ikut-ikutan meneruskan informasi yang kita dapatkan itu. Walhasil, menyebarlah informasi itu ke seluruh penjuru hanya dalam durasi yang singkat.
Namun, yang perlu kita sadari bahwa tidak semua informasi yang diakses tersebut merupakan informasi yang valid. Tak jarang kabar tersebut adalah rekayasa alias hoax  (baca: houks, bukan hoaks)sebuah kata yang akhir-akhir ini muncul dan nge-trend—dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Motifnya berbagai macam; ada yang memang hanya usil karena tidak punya kerjaan lain, namun ada pula yang memang berniat untuk memfitnah atau menyerang seseorang, kelompok, ataupun golongan. Hal yang seperti ini yang sangat perlu diwaspadai. Sebab, informasi yang masuk dalam otak kita akan menjadi sebuah persepsi yang akhirnya akan mempengaruhi pola pikir dan tindakan kita. Informasi yang salah yang telah kita yakini sebagai kebenaran akan melahirkan sikap dan perilaku yang salah, apalagi infomasi yang masuk tersebut sesuai dengan karakter pribadi. Krech dan Crutchfield (Rakhmat, 2003) menyatakan bahwa persepsi bersifat selektif secara fungsional artinya artinya objek-objek yang diberi tekanan dalam persepsi biasanya merupakan objek-objek yang memenuhi tujuan individu tersebut, biasanya dipengaruhi oleh kebutuhan, suasana mental, suasana emosional, latar belakang budaya (termasuk di dalamnya agama), dan frame of reference (kerangka rujukan).
Menyikapi hal ini, maka diperlukan kecerdasan dan kecermatan kita dalam berinteraksi di dunia maya, dalam menyampaikan dan menyebarkan informasi, terlebih lagi kala menerima dan menyikapi informasi. Seakan mengaminkan perlunya kecerdasan ini, pada tahun 2016 BNPT mengkampanyekan gerakan “Cerdas di Dunia Maya”. Gerakan ini merupakan upaya edukatif dalam rangka penyadaran publik untuk memanfaatkan teknologi internet secara cerdas. Banyak hal positif yang bisa diperoleh dari dunia maya, namun tak kalah perlunya kewaspadaan terhadap konten negatif yang dapat mendestruksi pola pikir si pengaksesnya.
Ada beberapa hal yang seyogyanya menjadi perhatian netizen kala asyik berselancar di dunia maya, baik di peramban jejaring, media sosial, ataupun social messenger. Pertama, kedepankan sikap kritis dan berhati-hati dalam membaca sebuah informasi. Jangan menelan informasi tersebut mentah-mentah. Ingat, sesuatu yang dimakan dalam keadaan mentah itu tidak baik! Kedua, perlu kita sadari bahwa tidak ada satupun media yang sepenuhnya bersifat netral. Makadalam hiruk pikuk padatnya infomasi saat ini maka saya menyarankan untuk tidak dipercayai 100% situs apapun. Solusinya adalah cari informasi secara berimbang. Carilah informasi dari kubu yang pro ketika kita telah terpapar dengan informasi dari kelompok yang kontra, begitu pula sebaliknya. Periksa kredibilitas media dan terutama penulisnya. Namun tetap waspada bahwa kredibilitas bukan diukur dari kepopuleran informasi atau penulisnya. Bisa saja kebenaran itu bukan berupa informasi yang populer karena ditutup oleh media-media yang mainstream. Ketiga, jangan ikutan latah untuk mem-broadcast informasi yang kita terima dari media lain tanpa proses konfirmasi terlebih dahulu. Menyebarkan informasi yang tidak benar sama artinya dengan menyebarkan fitnah dan kebohongan. Apalagi bila informasi itu menyangkut individu, kelompok, golongan, ataupun agama tertentu. Keempat, biasakan untuk membaca sesuatu dengan komprehensif sebelum memberikan tanggapan. Netizen yang cerdas adalah orang yang memberikan respons ketika ia telah benar-benar memahami duduk perkaranya, bukan orang yang begitu gegabah memberikan pandangan agar dianggap intelek dan up to date, padahal ia belum membaca sampai habis atau mungkin belum membacanya sama sekali.
Last but not leastjangan terlalu sensitif alias baper ketika membaca opini orang yang berseberangan dengan kita, apalagi sampai menyerang individunya. Kalau sekiranya perlu, tanggapilah dengan kepala, hati, dan jari yang dingin. Ketika tidak perlu ditanggapi atau mungkin belum cukup pengetahuan untuk merespons, maka diam adalah cara yang baik. Jangan merasa "pantang tak top" kalau tidak ikut memberikan respon, apalagi kalau sampai menggunakan argumentum ad hominem*) ketika tak mampu menjawab argumentasinya dengan argumentasi yang seimbang. Bukankan niatan awal kita menggunakan media sosial untuk menyambung tali silaturrahim, lantas mengapa sekarang semua berubah menjadi ring perdebatan dan pergulatan opini yang berujung dengan delete contact, blokir pertemanan, dan permusuhan? Entahlah, semua saya kembalikan kepada anda, memilih menjadi penghuni dunia maya yang santun dan berhati-hati atau menjadi pendekar dengan pedang terhunus, yang siap menebas siapa saja yang berseberangan dengannya!

*) Argumentum ad hominen atau yang lebih dikenal dengan ad hominem adalah salah satu jenis logical fallacy (kesalahan atau kesesatan dalam berlogika) yang berusaha untuk memberikan respon menyerang sisi negatif si penyampai argumennya, bukan untuk membalas argumentasi yang telah disampaikan.
Contohnya:
A : "Mengapa Saudara tidak mengizinkan wanita bercadar bekerja di kantor ini? Bukankah setiap orang memiliki hak yang sama?"
B : "Wanita bercadar itu sangat konservatif . Saya tidak mau ada karyawan semacam itu di sini".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar