Kamis, 21 Desember 2017

Bangsaku, Belajarlah Untuk Menghargai!

Seperti biasa, sembari menikmati suasana malam, saya menghabiskan waktu malam saya untuk berselancar di dunia maya, melompat dari satu situs ke situs lainnya. Terkadang untuk mencari beberapa bahan bacaan, mengunduh beberapa film yang recommended, atau hanya sekedar mengintip apa yang sedang menjadi trending topic di hari ini. Salah satu dari deretan situs yang selalu saya buka adalah Youtube, sebuah situs yang saat ini sangat digandrungi oleh warganet di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.
Saat asyik berwara-wiri ria di situs Youtube, mata saya tertuju pada salah satu video yang berjudul “Demian Aditya: Escape Artist Risks His Life During AGT Audition - America's Got Talent 2017”. Bagi yang belum melihat videonya, bisa ditonton di bawah ini:
Ya, Demian sang Illusionist Indonesia memberikan pertunjukan magic di panggung America’s Got Talent. “Wow, it’s amazing!”, itu yang muncul dalam benak saya. Kekaguman itu ternyata tidak hanya keluar dari mulut saya yang mungkin saja rada subjektif karena saya dan dia berasal dari negara yang sama, namun seolah juga mengamini, para juri turut menunjukkan antusias dan apresiasinya atas keberhasilan Demian dalam menyajikan pertunjukan yang mampu menyelipkan rasa "deg-deg ser" buat penontonnya. Tak hanya itu, berpuluh bahkan beratus komentar dengan nada memuji juga membanjiri dinding komentar viewers dari mancanegara yang tersedia di bawah video tersebut. Akan tetapi, ketika kita men-scroll down maka makin ke bawah, maka kita akan disuguhkan dengan komentar yang sungguh tidak menyenangkan.
“Ah, trik basi!”, “Ekspresi istrinya lebay!”, “Gue tau tuh triknya!”, “Gitu mah gampang, pasti dia lari dari belakang!”, dan mungkin masih ada berlusin-lusin kalimat hinaan yang serupa yang dilontarkan oleh penonton-penonton Youtube "yang budiman."
Sambil menghela nafas, saya bertanya pada diri saya sendiri, Mengapa Demian dibanggakan oleh negeri lain namun dihina oleh bangsanya sendiri? Bukankah usahanya ini juga akan mengharumkan nama Indonesia di mata penikmat magic di dunia? Sulitkah bagi kita untuk menghargai karya orang lain? Come on, my man! Come on!
Mau tidak mau kita harus mengakui bahwa kesulitan kita untuk mengapresiasi kelebihan dan karya orang lain adalah kegagalan kita sebagai bangsa, buah dari kegagalan sistem pendidikan Indonesia untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didiknya. Selama ini, para siswa hanya dilatih untuk menguasai hardskills dengan cara mencekoki mereka dengan pengetahuan tentang teori dan konsep yang tak jarang kering dengan nilai-nilai afektif. Di kelas, siswa lupa diajarkan untuk mengapresiasi, berempati,bertanggung jawab, dan berkolaborasi karena semua yang ada di kelas sibuk mengejar materi yang harus diajarkan dan dikuasai.
Mau contohnya? Lihat saja, ketika temannya maju ke papan tulis untuk mengerjakan soal namun ternyata ia tidak mampu menjawabnya, apa yang akan terjadi setelah itu? Gemuruh teriakan hinaan muncul dari siswa-siswa penonton yang sedang bersantai ria di bangkunya. Contoh lain? Perhatikan saja, ketika diberikan tugas kelompok di dalam kelas, selalu saja ada masalah yang muncul. Mulai dari ada yang tidak mau bekerja, yang hanya mau bekerja sendiri, yang hanya bisa komentar saja, sampai ada yang tidak mau disatukan dalam kelompok tertentu. Padahal kalau kita merujuk kepada 4 pilar pendidikan versi Unesco, pendidikan bukan hanya mampu mengajarkan seseorang untuk  mengetahui dan mampu melakukan sesuatu, tapi juga mendidik seseorang untuk mampu menjadi sesuatu dan mampu hidup bersama dalam lingkungannya.
“Kisah pilu” Demian ini sudah seharusnya kita jadikan warning  bahwa bangsa kita saat ini telah krisis pujian, krisis apresiasi. Sudah saatnya untuk mengubah arah pendidikan kita yang selama ini selalu mendewakan kecerdasan intelektual untuk juga belajar menghargai. Lebih dari itu, kita semua harus diajarkan kembali untuk memiliki kemampuan afektif. Tentu kita semua tidak pernah mengharapkan generasi Indonesia bak zombie yang otak tajam namun tumpul hatinya. Marilah kita semua belajar untuk menapresiasi orang lain, memberikan kritikan untuk membangun dan menyadarkan, bukan penilaian yang menghina dan menjatuhkan.
Haah! semoga bangsa ini ke depan lebih mampu menghargai usaha, karya, dan prestasi orang lain. For Demian, “You rock it out, bro!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar